Minggu, 15 Mei 2011

Definisi Konformitas


Conformity adalah tendensi untuk mengubah keyakinan atau perilaku seseorang agar sesuai dengan perilaku orang lain (Cialdini & Goldstein, 2004 dalam Sears dkk, 2009). Dalam Richards, G (2010:64) konformitas adalah melakukan hal yang sama dengan orang lain sesuai dengan norma-norma, selera, pendapat, penataan, dan sebagainya yang bersifat behavioral dalam sebuah kelompok yang didalamnya seseorang mengasumsikan dirinya sebagai anggotanya. Konformitas ini merupakan cara yang digunakan orang muda, khususnya mereka yang termasuk dalam komunitas yang termarginalkan, merasakan adanya ikatan untuk menyesuiakan diri dengan norma-norma subkultural yang tidak didukung oleh sebagian besar masyarakat. Namun demikian, pada tingkat yang lebih luas dengan kehadiran internet dan anonimitas kehidupan urban, tren budaya telah berubah ke arah yang berlawanan dan “normalitas” menjadi semakin sulit untuk diidentifikasikan. Baron & Byrne menjelaskan konformitas bagaimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka dengan cara yang dipandang  wajar atau dapat diterima oleh kelompok atau masyarakat agar sesuai dengan norma sosial yang ada.  Konformitas kelompok menunjukkan perilaku individu yang melakukan tindakan sesuai dengan harapan-harapan kelompok sosial dimana perilaku tersebut merupakan ekspresi persetujuan pada norma-norma kelompok. Adapaun norma tersebut merupakan aturan-aturan mengenai perilaku yang dapat diterima dan diharapkan. Selain itu, norma-norma tersebut juga akan menentukan perilaku yang sesuai atau tidak sesuai dilakukan oleh seseorang (Myers, 2005:208).
Konformitas terhadap tekanan teman sebaya pada remaja dapat menjadi positif atau negatif (Camarena, 1991; Foster-Clark & Blyth, 1991; pearl, Bryan & Herzog, 1990; Wall, 1993 dalam Santrock, 2003: 221-223). Remaja yang terlibat atas tingkah lakunya yang negatif, seperti menggunakan bahasa gaul, mencuri, menghiraukan apa yang dikatakan oleh orang tua dan gurunya. Namun banyak konformitas pada remaja yang positif dan merupakan keinginan untuk terlibat dalam dunia teman sebaya, misalnya berpakaian seperti teman-temannya dan ingin menghabiskan waktu dengan anggota dari perkumpulan. Tekanan konformitas yang terjadi ini akan menjadikan ide yang umum dalam kehidupan remaja. Kekuatannya dapat dilihat dari pilihan mereka dalam melakukan aktivitas bersama teman sebayanya, apakah mengarah pada konformitas yang positif atau konformitas yang negatif.

1 comments:

  • irma rahmalita says:
    3 Januari 2013 pukul 23.38

    Mau tanya, kalau boleh tau referensi buku tulisannya dari mana ya?
    Terimakasih sebelumnya

Posting Komentar